Setiap Bulan Maulud (Rabiul-Awal) dalam penanggalan Hijriah, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat melaksanakan upacara ritual Nyangku, yaitu membersihkan benda-benda pusaka yang dilakukan setahun sekali
Riwayat nyangku tak lepas dari keberadaan Situ Lengkong, dan sebuah pulau kecil di tengahnya, Nusa Gede. Di Nusa Gede yang luasnya 9 hektar ini, terdapat makam yang disakralkan, yakni makam Prabu Hariang Kencana, seorang raja Panjalu. Tokoh sentral Nyangku, Situ Lengkong, dan Nusa Gede, sejatinya adalah pangeran Borosngora. Ia adalah salah seorang Raja Panjalu, ayah Prabu Hariang Kencana. Jiwa pangeran Borosngora-lah, yang melekat erat pada masyarakat Panjalu.
Masyarakat Panjalu meyakini bahwa berkat Borosngoralah terbentuk Situ Lengkong yang luasnya sekitar 60 hektar. Konon, saat Borosngora masih berstatus putra mahkota, ia diperintah ayahnya, Prabu Sanghiang Cakra Dewa, untuk menyempurnakan ilmunya. Akhir pengembaraan, membawanya ke tanah suci Mekah, dan mendalami Agama Islam.
Saat kembali ke Panjalu, Borosngora membawa pulang air zamzam, pakaian kesultanan, pedang, ciss, dan langsung menggantikan ayahnya sebagai raja. Dengan naik tahtanya Borosngora ini, maka mulai saat itu pula, Panjalu berubah dari Kerajaan Hindu menjadi sebuah Kerajaan Islam. Pada masa pemerintahannya inilah, Situ Lengkong terbentuk. Air zamzam yang dibawa dari Mekah ditumpahkan di atas pasir yaitu Lembah Pasir Jambu, dan tak dinyana lembah itu serta merta dialiri air, yang akhirnya membentuk danau. Itulah Situ Lengkong.
Sedangkanl makam Prabu Hariang Kencana, memiliki riwayat sendiri. Prabu Hariang Kencana adalah putra Borosngora, yang akhirnya memimpin Kerajaan Panjalu, dan menurunkan raja-raja Panjalu berikutnya. Borosngora sendiri terus berkelana ke berbagai daerah. Ia sulit diketahui keberadaannya, bahkan ketika beliau wafatpun jenazahnya entah dimakamkan dimana. Borosngora memang tidak ingin makamnya dikeramatkan. Akhirnya makan Prabu Hariang Kencana di Nusa Gede-lahyang diziarahi. Sementara warisan Borosngora, berupa benda-benda pusaka seperti ciss atau pedang panjang berkait, dan berbagai senjata lainnya, tetap tersimpan rapi.
Setiap Bulan Maulud benda-benda pusaka peninggalan Pangeran Borosngora ini dikeluarkan, diperlihatkan dan dibersihkan. Ritual ini seperti amanat leluhur Panjalu, yang tersurat di Gerbang Nusa Gede. Satu diantaranya, rakyat Panjalu harus suci. Ritual inilah yang dikenal dengan Nyangku atau dalam bahasa Arab Yanko, yang bermakna membersihkan.
Di Panjalu, Nyangku bermakna membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Pangeran Borosngora. Dalam arti yang lebih luas, upacara ini bermakna pembersihan diri manusia. Sesungguhnya manusia terlahir dalam keadaan bersih, sehingga harus kembali dalam keadaan bersih pula.
Air yang digunakan untuk mencuci pusaka diambil dari sembilan mata air, seluruhnya terletak di sekeliling desa Panjalu. Kesembilan mata air ini konon tidak pernah kering, sekalipun di musim kemarau. Hanya Kuncen dan sesepuh desa-lah yang berhak mengambil air di sini. Memasuki mata air, tidak lupa mereka mensucikan diri dengan berwudhu, dan berdoa. Sikap santun ini adalah wujud kesucian yang dijunjung pada manusia dan airnya. Air yang telah dituang ke dalam kendi, kemudian dibawa menuju makam leluhur yang merupakan guru dari para Raja Panjalu. Tangan-pun kembali ditengadahkan, memanjatkan doa bagi para leluhur.
Di mata masyarakat Panjalu, Nyangku adalah hari besar, meski tak sebesar Idul Fitri. Acara dipusatkan di Bumi Alit, tempat dimana pusaka Prabu Borosngora disimpan. Doa-doa telah dikumandangkan sejak dini hari. Bumi Alit merupakan bangunan sakral berbentuk bujur sangkar, simbol kabah. Pusaka yang disimpan di dalamnya tak dapat dijamah oleh siapapun, kecuali Kuncen dan kerabat keturunan Prabu Borosngora. Warga yang ingin berdoa mengambil posisi di luar Bumi Alit.
Menjelang puncak upacara Nyangku, Kuncen menyiapkan segala kebutuhan untuk mencuci pusaka. Seperti jeruk nipis guna menghilangkan karat, arang untuk mengeringkan setelah dicuci, dan daun kelapa untuk membungkus kembali pusaka dan juga kemenyan. Kemudian, sesepuh adat, dan keturunan kerajaan Panjalu lainnya memasuki Bumi Alit.
Setelah keluar dari Bumi Alit, prosesi rombongan pembawa pusaka dimulai. Tidak semua dari ratusan pusaka milik Panjalu dibawa ke upacara Nyangku. Hanya pusaka pokok, yaitu pedang, stok komando, kujang dan gong kecil milik Prabu Borosngora, dan beberapa keris lainnya yang ikut dalam prosesi. Selama prosesi, suara musik gembyungan khas Panjalu, dimainkan empat belas pria berbusana serba ungu.
Tujuan perjalanan rombongan ini adalah Situ Lengkong. Sebetulnya jarak antara bumi alit dan situ lengkong tidak terlalu jauh, hanya 200-an meter. Namun langkah para peserta prosesi yang perlahan, ditambah minat masyarakat mengikuti acara ini, membuat jarak sesingkat ini ditempuh dalam waktu hampir 1 jam. Di situ Lengkong, beberapa buah perahu telah siap menyeberangkan mereka ke Nusa Gede. Di Nusa Gede, rombongan mendatangi makam Prabu Hariang Kencana, putra Prabu Borosngora, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur Panjalu.
Inti upacara Nyangku dimulai setelah rombongan kembali dari Nusa Gede. Di balai desa, pusaka-pusaka dibuka. Mulai dari tali yang posisinya tepat pada gagang pedang, kain putih seperti kain kafan sebanyak tujuh lapis, tali lainnya sepanjang kurang lebih 50 meter, hingga terakhir daun kelapa muda kering.
Pembersihan pusaka dimulai dengan menggosokkan jeruk nipis, guna menghilangkan karat. Barulah kemudian disiram air suci. Inti upacara Nyangku ini menjadi pusat perhatian masyarakat, yang memadati balai desa. Mereka berharap terciprat air cucian keris, yang diyakini membawa berkah.
Dari balai desa, pusaka kembali diarak menuju Bumi Alit. Seluruh ritual merupakan gambaran proses kehidupan manusia. Mulai dari pusaka dikeluarkan dari Bumi Alit, yang melambangkan kelahiran bayi dari rahim ibunya, proses arak-arakan perlambang kehidupan itu sendiri, hingga dikembalikannya pusaka ke dalam Bumi Alit, yang sama dengan kembalinya manusia ke dalam liang lahat.
Di dalam bumi alit, keluarga keturunan Kerajaan Panjalu mengembalikan pusaka ke tempat penyimpanannya. Dengan demikian, tuntaslah seluruh ritual upacara Nyangku. Pusaka telah bersih, masyarakat Panjalu-pun diyakini telah bersih, telah suci, seperti amanat para leluhur mereka
Ditulis dalam Budaya