Pariwisata dan OTDA

•Januari 29, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Setiap daerah selalu menganggap bahwa daerah dapat mengembangkan pariwisatanya. Padahal tidak semudah itu kita dapat mengembangan pariwisata. Tiap daerah perlu mempelajari lebih dahulu karakter dan potensi daerahnya masing-masing.

Pariwisata bertujuan untuk menambah devisa suatu negara atau PAD daerah. Kebanyakan daerah salah berpikir dalam mengembangkan pariwisatanya, mereka beranggapan bahwa tidak perlu mendatangkan wisatawan dari daerah atau negara lain, cukup didatangi oleh warganya sendiri. Berarti hukum ekonomi tidak berlaku lagi. Karena saat ini pariwisata telah menjadi industri, jadi memberikan kontribusi besar kepada negara atau daerah.

Pengembangan pariwisata tidak semudah yang dipikirkan oleh para pimpinan di daerah, dibutuhkan studi yang mendalam, bukan hanya masalah potensi saja, perlu juga memperhatikan masalah sosial daerah tersebut. Salah satu penyebab keberhasilan suatu daerah dalam mengembangan pariwisatanya adalah dukungan dari masyarakatnya. Sebagai contoh, Bali dan Yogyakarta, masyarakatnya bangga dengan daerah tujuan wisata yang ada di daerahnya. Jadi masyarakat di daerah yang bersangkutan dapat mendukung pemasaran pariwisata daerahnya masing-masing. Karena pemasaran yang terbaik adalah pamasaran dari mulut ke mulut.

Pengembangan pariwisata memberikan dampak sosial dan lingkungan hidup. Masyarakat setempat dapat dipengaruhi oleh gaya hidup wisatawan yang datang ke daerahnya. Justru ciri khas suatu daerah harus dipertahankan sebagai daya tarik wisata. Selain itu, pembangunan pariwisata di daerah sering melupakan keberadaan lingkungan hidup, terutama yang berkaitan dengan ekowisata. Lingkungan di suatu daerah bisa rusak akibat ulah wisatawan yang datang atau warga setempat, karena baik wisatawan maupun penduduk setempat perlu memperhatikan kondisi lingkungan setempat.

Jadi setiap daerah perlu mengkaji terlebih dahulu sebelum mengembang pariwisata yang mereka miliki. Terutama pembangunan infrastruktur, banyak daerah tidak memikirkan bagaimana menjangkau suatu tempat wisata. Transportasi dan akomodasi merupakan syarat mutlak bila ingin mengembangkan pariwisata. Daerah sering melupakan transportasi umum yang dapat digunakan wisatawan mendatangi objek wisata. Mereka berpikir bahwa wisata memiliki banyak uang, dapat menyewa mobil, tapi para pemimpin di daerah lupa bahwa warganya yang ingin berwisata juga mendapatkan kendala bila tidak tersedia transportasi. Itulah sebenarnya masalah yang dihadapi oleh setiap daerah di Indonesia.

PG. Gondang Baru

•Desember 30, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pabrik Gula Gondang Baru merupakan satu-satunya pabrik gula yang masih menggunakan mesin-mesin tua. Mesin-mesinnya belum pernah diganti, kecuali salah satu ketel uap yang diganti pada tahun 1979. Selain itu, di area pabrik gula ini terdapat museum gula yang juga merupakan satu-satunya museum pabrik gula di Indonesia, bahkan satu-satunya museum pabrik gula yang ada di Asia Tenggara. Begitu pula bangunan-bangunan yang ada di area ini masih difungsikan sesuai dengan dengan fungsinya masing-masing. Bangunan–bangunan tersebut terdiri atas bangunan pabrik, perkantoran, perumahan karyawan, dan museum. Bangunan-bangunan ini didirikan pada abad ke-19, menggunakan arsitektur Indische Style, suatu gaya arsitektur yang merupakan perpaduan arsitektur Eropa dan kondisi iklim di Indonesia.

Selain bangunan, di dalam area Pabrik Gula Gondang Baru masih mempergunakan kereta Lori untuk mengangkut tebu sehabis dipanen dari tempat penimbangan hingga ke tempat penyimpanan tebu. Pabrik Gula Gondang Baru juga masih menggunakan mesin uap tertua, B Lahaye & Brissoneau, buatan Prancis tahun1884, yang saat ini masih dapat berfungsi dengan baik. Demikian juga mesin-mesin lain peningggalan abad ke-19 yang masih baik kondisinya dan menghasilkan gula bermutu tinggi, padahal teknologi tersebut sudah tidak digunakan lagi oleh negara-negara Barat. Oleh karena itu, Pabrik Gula Gondang Baru perlu  memiliki nilai penting berupa makna kultural, yaitu:

1. nilai estetis .

2. nilai historis

3. nilai akademis

4. nilai sosial-ekonomi

Bangunan-bangunan tersebut telah berusia lebih dari 50 tahun, maka pabrik gula dan lingkungannya yang berdiri sejak jaman penjajahan Belanda dapat direkomendasikan menjadi Benda Cagar Budaya (BCB). Dalam lingkup kepurbakalaan dan arkeologi, pengertian situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung tinggalan benda budaya dan lingkungkannya yang diperlukan bagi pengamanannya.

Hal tersebut di atas merupakan pertimbangan bahwa Pabrik Gula Gondang Baru sebagai tinggalan arkeologi patut dilestarikan dan dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan dan ekonomi.

Upacara Seren Taun di Cigugur

•November 3, 2008 • 4 Komentar

 tari-buyung-2  tari-buyung-3  tari-buyung-4

                           

      tari-buyung-1       tati-buyung-51

Setiap tanggal 22 Rayagung Saka ,kawasan Desa Cigugur, sebuah desa di kaki Gunung Ceremai, Kuningan, Jawa Barat, melaksanakan upacara Seren Taun. Ciri khas Seren Taun di Desa Cigugur maksudnya ngarayakeun kaagungan-Mu Maha Agung, sedangkan diperingati setiap 22 Rayagung, ini berdasarkan arti pentingnya angka 22, yaitu 20 sebagai simbol sifat wujud manusia yang terdiri dari darah, daging, paru-paru dan sebagainya. Sifat 20 yang menyatukan organ dan sel tubuh dengar fungsi yang beraneka ragam, sifat yang berubah serta memuncak pada tarai tertentu. Sedangkan 2 sebagai simbol jenis kelamin laki-laki dan perempuan. suka dan duka, mengacu pada pengertian bahwa hidup yang kita terima terdiri dari dari unsur berpasangan. Dalam kehidupan ini disadari adanya hukum adikodrati dalam merasakan adanya pancaran Cipta, Rasa dan Karsa. Manusia disamping memiliki naluri dasar yang merupakan ketentuan hidup, juga memiliki rasa dapat merasa dan merasakan. Kemudian memiliki pikir, dapat berpikir dan memikirkan. Adanya keselarasan rasa dan pikir itulah yang mewujudkan etika, susila, tatakrama, estetika sebagai pancaran kehalusan budinya.

bedaya   bikin-janur-1  

buncis-1   damar-sewu
        Seren Taun merupakan ungkapan rasa syukur pada tuhan atas segala berkah hasil bumi yang diperoleh selama ini. Hasil pertanian yang diperoleh berpengaruh terhadap ke-20 sifat wujud manusia itu, baik laki-laki maupun perempuan. Seren Taun yang diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon kepada Tuhan melimpahkan kesejahteraan, selainjuga mengingatkan diri sendiri agar tidak berlebihan dalam menikmati karunia Tuhan tersebut.

buncis-2    penari-buyung    gereja-2    gereja-3  

  gondang-1    numbuk-padi    tati-buyung-5
        Kegiatan diawali dengan barisan muda-mudi, ibu-ibu dan bapak-bapak yang membawa hasil bumi berupa padi, buah-buahan, palawija: Barisan dibagi menjadi empat penjuru sesuai dengan arah mata angin. Barisan terdepan (lulugu) yaitu dua gadis membawa padi, buah-buahan dan umbian diiringi oleh seorang pemuda yang membawa payung janur bersusun tiga. Kemudian 11 gadis membawa padi, masing-masing dipayungi seorang pemuda, rombongan bapak-bapak yang memikul padi dengan rengkong serta pikulan biasa.
Serta para penari yang membawa buyung (bejana untuk membawa air).

 buncis-11   gereja-1 

 gereja-4   gondang

Hal tersebut mempunyai makna sebagai berikut: empat penjuru melambangkan cinta kasih Tuhan terhadap umatnya sudah tersedia di empat penjuru bumi ini. Dua lulugu melambangkan manusi hidup dikelilingi komunitasnya, selain itu ditopang oleh keanekaragaman kehidupan, sedang payung janur bersusun tiga merupakan simbol Tri Daya Eka Karsa, yaitu tiga taraf kehidupan; nabati, hewani dan insani. 11 muda-mudi melambangkan bahwa mereka adalah benih-benih atau tunas bangsa sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan serta melestarikan budaya bangsa. Sedangkan rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak melambangkan permohonan dan membimbing anakanaknya dengan kasih sayang sehingga anak tersebut menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa.

gondang-2   numbuk1   

pdjati   padi

Kegiatan puncak ditandai dengan pagelaran kesenian kolosal Tari Buyung dan Angklung Buncis dari Desa Cigugur, serta Angklung Baduy dari Kanekes sebagai bagian ritual utama dan dilanjutkan dengan Ngajayak, yakni penyerahan l5adi oleh masyarakat untuk ditumbuk bersama-sama yang hasilnya akan dibagikan pada yang memerlukan dengan menyisakan sebagian untuk benih guna ditanam kembali.

 payung   pembawa-padi-1  

 pembawa-padi-2   tumpeng

 

 

 

BUKITTINGGI

•November 3, 2008 • 1 Komentar

    jam-gadang-1        malam-hari

Bukittinggi merupakan kota kecil yang cukup terkenal, berada di Sumatra Barat. Bukittinggi sudah cukup dikenal secara nasional, bahkan di mancanegara. Apalagi Bukittinggi pernah menjadi ibukota Republik Indonesia (RI) pada zaman kemerdekaan dulu. Kota ini berada di dataran tinggi 1500 m di atas permukaan laut, termasuk salah satu kota yang sejuk di Indonesia. Kota ini semakin mempesona karena diapit oleh dua gunung, yakni Gunung Singgalang dan Merapi.

           kota     kota-1

            Untuk mencapai kota ini juga tidak sulit. Jika melalui Padang, cuma membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan darat. Sedangkan jika melalui Pekannbaru dibutuhkan waktu lebih kurang 5 jam. Namun sepanjang jalan menuju Bukittinggi menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan. Karena pesona yang dimilikinya inilah

yang membuat banyak wisatawan dalam negeri dan luar negeri menjadikan Bukittinggi sebagai daerah tujuan wisata. Di kota ini mereka bisa menikmati udara segar dengan temperatur udara yang relatif sejuk dengan suhu tertinggi 27 derajat selsius dan terendah 19 derajat selsius.

            ngarai-sianok       pasar

            Banyak tujuan wisata yang dapat kita kunjung bila berada di kota Bukittinggi. Salah satunya yang paling terkenal kawasan Jam Gadang yang berada di pusat kota. Karena lokasi jam gadang ini cukup tinggi, maka dari tempat ini bisa melihat sebagian dari kota Bukittinggi. Pengunjung Jam Gadang dapat naik ke bagian paling atas dari bangunan ini, sehingga dapat menikmati keindahan kota Bukittinggi dari atas.

 

Goa Jepang

                        gua-jepang1     


            Objek wisata yang terdekat dengan Jam Gadang itu diantaranya Kawasan Panorama, Benteng
Fort de Kock , dan Kebun Binatang Bundo Kanduong. Kawasan Panorama merupakan salah satu objek wisata yang di dalamnya terdapat sebuah goa peninggalan zaman Jepang yang disebut “Goa Jepang”. Untuk masuk ke Goa Jepang, pengunjung harus turun melalui anak tangga yang cukup terjang.  

sebuah goa peninggalan zaman Jepang yang disebut “Goa Jepang”. Untuk masuk ke Goa Jepang, pengunjung harus turun melalui anak tangga yang cukup terjal.

            Goa Jepang ini dulunya dipergunakan tentara Jepang sebagai tempat persembunyian sekaligus tempat penahanan tentera Indonesia. Di sini dapat dilihat berbagai peralatan yang dulunya dipergunakan tentara Jepang menyiksa masyarakat pribumi, dan kamar-kamar yang diduga kuat sebagai tempat penyiksaan. Selain Goa Jepang, pengunjung juga dapat melihat secara leluasa Ngarai Sianok yang terkenal itu. Dari atas kawasan Panorama itu yang letaknya agak lebih ketinggian, keindahan Ngarai Sianok dapat dilihat dengan jelas. Andapun bisa berfoto dengan latar belakang Ngarai Sianok tersebut.

            Anda bisa melanjutkan perjalanan ke kawasan Benteng juga dengan memanfaatkan sarana transportasi Bendi. Jarak dari Benteng dari Panorama lebih kurang 500 meter. Benteng merupakan bangunan tua yang dulunya digunakan sebagai tempat pertahanan tentara Belanda. Di benteng ini masih ditemukan sejumlah meriam tua yang dulu digunakan untuk menembakki musuh.

                          jematan-limpapeh-1       mesji1

               Dari Benteng, Anda cukup menyeberang melalui jembatan gantung (Limpapeh) menuju kebun binatang yang berada di atas bukit berseberangan dengan Benteng tadi. Kebun binatang ini termasuk sudah berumur tua, namun keberadaannya tetap bertahan. Bahkan koleksi hewan-hewan di sini terus ditambah, sehingga pengunjungnya tidak pernah sepi.

Penginapan

            Bila anda melakukan perjalanan ke Bukittinggi tidak perlu khawatir untuk mencari tempat menginap. Di kota ini tersedia hotel berbintang dan hotel-hotel melati. Hotel- hotel di Bukittinggi rata-rata berada di pusat kota yang tidak jauh dari tujuan wisata kota tersebut. Jalan bila berwisata di kota Bukittinggi cukup berjalan kaki menuju ke tempat-tempat wisata di kota ini

bangunan-kuno  bangunan-kuno-1  bangunan-kuno-2

UPACARA NYANGKU DI PANJALU,CIAMIS

•November 3, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Setiap Bulan Maulud (Rabiul-Awal) dalam penanggalan Hijriah, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat melaksanakan upacara ritual Nyangku, yaitu membersihkan benda-benda pusaka yang dilakukan setahun sekali

            Riwayat nyangku tak lepas dari keberadaan Situ Lengkong, dan sebuah pulau kecil di tengahnya, Nusa Gede. Di Nusa Gede yang luasnya 9 hektar ini, terdapat makam yang disakralkan, yakni makam Prabu Hariang Kencana, seorang raja Panjalu. Tokoh sentral Nyangku, Situ Lengkong, dan Nusa Gede, sejatinya adalah pangeran Borosngora. Ia adalah salah seorang Raja Panjalu, ayah Prabu Hariang Kencana. Jiwa pangeran Borosngora-lah, yang melekat erat pada masyarakat Panjalu.

            Masyarakat Panjalu meyakini bahwa berkat Borosngoralah terbentuk Situ Lengkong yang luasnya sekitar 60 hektar. Konon, saat Borosngora masih berstatus putra mahkota, ia diperintah ayahnya, Prabu Sanghiang Cakra Dewa, untuk menyempurnakan ilmunya. Akhir pengembaraan, membawanya ke tanah suci Mekah, dan mendalami Agama Islam.

            Saat kembali ke Panjalu, Borosngora membawa pulang air zamzam, pakaian kesultanan, pedang, ciss, dan langsung menggantikan ayahnya sebagai raja. Dengan naik tahtanya Borosngora ini, maka mulai saat itu pula, Panjalu berubah dari Kerajaan Hindu menjadi sebuah Kerajaan Islam. Pada masa pemerintahannya inilah, Situ Lengkong terbentuk. Air zamzam yang dibawa dari Mekah ditumpahkan di atas pasir yaitu Lembah Pasir Jambu, dan tak dinyana lembah itu serta merta dialiri air, yang akhirnya membentuk danau. Itulah Situ Lengkong.

            Sedangkanl makam Prabu Hariang Kencana, memiliki riwayat sendiri. Prabu Hariang Kencana adalah putra Borosngora, yang akhirnya memimpin Kerajaan Panjalu, dan menurunkan raja-raja Panjalu berikutnya. Borosngora sendiri terus berkelana ke berbagai daerah. Ia sulit diketahui keberadaannya, bahkan ketika beliau wafatpun jenazahnya entah dimakamkan dimana. Borosngora memang tidak ingin makamnya dikeramatkan. Akhirnya makan Prabu Hariang Kencana di Nusa Gede-lahyang diziarahi. Sementara warisan Borosngora, berupa benda-benda pusaka seperti ciss atau pedang panjang berkait, dan berbagai senjata lainnya, tetap tersimpan rapi.

            Setiap Bulan Maulud benda-benda pusaka peninggalan Pangeran Borosngora ini dikeluarkan, diperlihatkan dan dibersihkan. Ritual ini seperti amanat leluhur Panjalu, yang tersurat di Gerbang Nusa Gede. Satu diantaranya, rakyat Panjalu harus suci. Ritual inilah yang dikenal dengan Nyangku atau dalam bahasa Arab Yanko, yang bermakna membersihkan.

            Di Panjalu, Nyangku bermakna membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Pangeran Borosngora. Dalam arti yang lebih luas, upacara ini bermakna pembersihan diri manusia. Sesungguhnya manusia terlahir dalam keadaan bersih, sehingga harus kembali dalam keadaan bersih pula.

            Air yang digunakan untuk mencuci pusaka diambil dari sembilan mata air, seluruhnya terletak di sekeliling desa Panjalu. Kesembilan mata air ini konon tidak pernah kering, sekalipun di musim kemarau. Hanya Kuncen dan sesepuh desa-lah yang berhak mengambil air di sini. Memasuki mata air, tidak lupa mereka mensucikan diri dengan berwudhu, dan berdoa. Sikap santun ini adalah wujud kesucian yang dijunjung pada manusia dan airnya. Air yang telah dituang ke dalam kendi, kemudian dibawa menuju makam leluhur yang merupakan guru dari para Raja Panjalu. Tangan-pun kembali ditengadahkan, memanjatkan doa bagi para leluhur.

            Di mata masyarakat Panjalu, Nyangku adalah hari besar, meski tak sebesar Idul Fitri. Acara dipusatkan di Bumi Alit, tempat dimana pusaka Prabu Borosngora disimpan. Doa-doa telah dikumandangkan sejak dini hari. Bumi Alit merupakan bangunan sakral berbentuk bujur sangkar, simbol kabah. Pusaka yang disimpan di dalamnya tak dapat dijamah oleh siapapun, kecuali Kuncen dan kerabat keturunan Prabu Borosngora. Warga yang ingin berdoa mengambil posisi di luar Bumi Alit.

            Menjelang puncak upacara Nyangku, Kuncen menyiapkan segala kebutuhan untuk mencuci pusaka. Seperti jeruk nipis guna menghilangkan karat, arang untuk mengeringkan setelah dicuci, dan daun kelapa untuk membungkus kembali pusaka dan juga kemenyan. Kemudian, sesepuh adat, dan keturunan kerajaan Panjalu lainnya memasuki Bumi Alit.

            Setelah keluar dari Bumi Alit,  prosesi rombongan pembawa pusaka dimulai. Tidak semua dari ratusan pusaka milik Panjalu dibawa ke upacara Nyangku. Hanya pusaka pokok, yaitu pedang, stok komando, kujang dan gong kecil milik Prabu Borosngora, dan beberapa keris lainnya yang ikut dalam prosesi. Selama prosesi, suara musik gembyungan khas Panjalu, dimainkan empat belas pria berbusana serba ungu.

            Tujuan perjalanan rombongan ini adalah Situ Lengkong. Sebetulnya jarak antara bumi alit dan situ lengkong tidak terlalu jauh, hanya 200-an meter. Namun langkah para peserta prosesi yang perlahan, ditambah minat masyarakat mengikuti acara ini, membuat jarak sesingkat ini ditempuh dalam waktu hampir 1 jam. Di situ Lengkong, beberapa buah perahu telah siap menyeberangkan mereka ke Nusa Gede. Di Nusa Gede, rombongan mendatangi makam Prabu Hariang Kencana, putra Prabu Borosngora, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur Panjalu.

            Inti upacara Nyangku dimulai setelah rombongan kembali dari Nusa Gede. Di balai desa, pusaka-pusaka dibuka. Mulai dari tali yang posisinya tepat pada gagang pedang, kain putih seperti kain kafan sebanyak tujuh lapis, tali lainnya sepanjang kurang lebih 50 meter, hingga terakhir daun kelapa muda kering.

            Pembersihan pusaka dimulai dengan menggosokkan jeruk nipis, guna menghilangkan karat. Barulah kemudian disiram air suci. Inti upacara Nyangku ini menjadi pusat perhatian masyarakat, yang memadati balai desa. Mereka berharap terciprat air cucian keris, yang diyakini membawa berkah.

            Dari balai desa, pusaka kembali diarak menuju Bumi Alit. Seluruh ritual merupakan gambaran proses kehidupan manusia. Mulai dari pusaka dikeluarkan dari Bumi Alit, yang melambangkan kelahiran bayi dari rahim ibunya, proses arak-arakan perlambang kehidupan itu sendiri, hingga dikembalikannya pusaka ke dalam Bumi Alit, yang sama dengan kembalinya manusia ke dalam liang lahat.

            Di dalam bumi alit, keluarga keturunan Kerajaan Panjalu mengembalikan pusaka ke tempat penyimpanannya. Dengan demikian, tuntaslah seluruh ritual upacara Nyangku. Pusaka telah bersih, masyarakat Panjalu-pun diyakini telah bersih, telah suci, seperti amanat para leluhur mereka

Kawali

•November 3, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Telah dikemukakan bahwa keturunan Manarah yang laki-laki terputus sehingga pada tahun 852 tahta Galuh jatuh kepada keturunan Banga, yaitu Rakeyan Wuwus yang beristrikan puteri keturunan Galuh. Sebaliknya adik perempuan Rakeyan Wuwus menikah dengan putera Galuh yang kemudian menggantikan kedudukan iparnya sebagai Raja Sunda IX dengan gelar Prabu Darmaraksa Buana. Kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Prabu Darmaraksa (891-895) dibunuh oleh seorang menteri Sunda yang fanatik.

Karena peristiwa itu, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895 sampai tahun 1311 kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.

Ayah Sri Jayabupati berkedudukan di Galuh, Sri Jayabupati di Pakuan, tetapi puteranya berkedudukan di Galuh lagi. Dua raja berikutnya (Raja Sunda ke-22 dan ke-23) memerintah di Pakuan. Raja ke-24 memerintah di Galuh dan raja ke-25, yaitu Prabu Guru Darmasiksa mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Puteranya, Prabu Ragasuci, berkedudukan di Saunggalah dan dipusarakan di Taman, Ciamis.

Dalam abad ke-14 sebutan SUNDA itu sudah meliputi seluruh Jawa Barat, baik dalam pengertian wilayah maupun dalam pengertian etnik. Menurut Pustaka Paratwan i Bhumi Jawadwipa, Parwa I sarga 1, nama Sunda mulai digunakan oleh Purnawarman untuk Ibukota Tarumanagara yang baru didirikannya, Sundapura. Idealisme kenegaraan memang terpaut di dalamnya karena Sundapura mengandung arti kota suci atau kota murni, sedangkan Galuh berarti permata atau batu mulia (secara kiasan berarti gadis).

 

Sumber: Wikipedia

RONGGENG GUNUNG

•November 3, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

            

Persepsi orang ketika mendengar kata “ronggeng” mungkin negatif, dimana pengunjung sambil minum-minuman keras menari dan merayu para ronggeng dengan imbalan uang, walau secara harfiah artinya adalah penari dari pegunungan yang tidak mempunyai konotasi apa-apa. Orang lebih suka menyebutnya seni Ibing (tari) yang didalamnya terdapat tarian-tarian sebagai simbol kesedihan dan alat balas dendam seorang wanita bernama Siti Samboja dan para pungawanya terhadap para bajo/perompak yang telah membunuh suaminya.

Adapun kesenian yang diciptakan Rerabu, istri Mandiminyak (Raja Galuh abad VII-an) ini mempunyai banyak versi dan cerita atas perjuangan Siti Samboja dan sejarah berdirinya kerajaan Pananjung di daerah Pangandaran yang mempunyai kebenaran sendiri-sendiri dan belum bisa dibuktikan secara empiris.

Pada perjuangan selanjutnya Ronggeng Gunung terdesak oleh Ronggeng Kaler dari Kuningan yang perpaduannya menghasilkan Ronggeng Amen/Kidul yang lebih “laku” dimasyarakat mungkin karena lebih meriah sebab sudah menggunakan gamelan kliningan dan lagu-lagu Rancagan, sedang Ronggeng gunung terbatas pada lagu kawungan, Lirik Cangreng, Torondol, Kidung, Kosongan dan Gondang Rangsak dengan Waditra(alat musik) hanya sebuah kendang tanpa kulanter (kendang kecil), go’ong dan tiga buah ketuk.

Pakaian yang dikenakan pun sangat bersahaja. sinden hanya memakai kebaya dan sinjang(kain). Penabuh waditra dengan celana pangsi, baju dan ikat kepala hitam Sedang penari pendamping hampir sama dengan penabuh waditra hanya ditambahkan kain sarung yang di selempangkan ditambah golok (nyoren bedog).

Ronggeng Gunung dari dulu sampai sekarang sangat sedikit sekali mengalami perubahan, Sinden menyanyi sambil ngibing (menari) ditengah penari pria yang bergerak secara serempak, dengan tarian yang lebih ditekankan pada gerakan kaki, Lagu-lagu yang dibawakan uniknya tidak mengenal laras dan ditampilkan dengan gaya wawangsalan (pantun 4 baris).

Konon, pada awalnya ronggeng gunung dilakukan pada saat sebelum ngaseuk (melubangi tanah untuk menanam benih padi) sebagai penyambutan (mapag sri), ngangkut pare atau minta hujan. Tetapi sekarang ini Ronggeng Gunung hanya diadakan dalam acara-acara pesta tertentu saja seperti khitanan dan pesta pernikahan.

Asalnya mungkin orang terjebak ketika mendengar nama Ronggeng Gunung karena dalam kenyataannya sangatlah berbeda dengan ronggeng-ronggeng lainnya yang cenderung meriah, justru kesederhaan inilah yang menjadi ciri khas kesenian ini, dimulai dengan waditra, pakaian yang dikenakan, lagu dan tariannya, sama sekali tidak menunjukkan erotisme yang banyak diperkirakan orang.

Sejalan dengan kompleksitas jenis musik dan tarian, maka dengan bergeraknya waktu, seni ibing ini semakin ketinggalan bahkan diantara seni sunda sendiri, Ronggeng Gunung seolah menjadi tarian langka yang kebanyakan orang tidak tahu-menahu bahkan tidak pernah mendengar namanya sekali pun. Padahal Ronggeng Gunung ini menjadi cikal bakal munculnya ronggeng-ronggeng yang ada di masyarakat. Dimanakah letak kesalahannya? Apakah karena kesederhanaannya atau orang memang lebih menggandrungi musik-musik yang dinamis dan menghentak-hentak? Lalu apakah salah kesenian ini tetap berakar pada ciri khasnya? Mungkinkan Ronggeng Gunung ini akan tetap monoton dan melupakan perkembangan manusia sebagai penikmat seni? Sebagai refleksi kepedulian terhadap budaya sunda, mungkin kita yang mau tak mau untuk mampu menjawabnya.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.